Publikasi Terkini :
Home » » Karena Muara Hidup Adalah Kematian*

Karena Muara Hidup Adalah Kematian*

Written By Fajar CheQyu on Minggu, 01 April 2012 | Minggu, April 01, 2012

Oleh : Fajar C. Qoharuddien

 
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang sala
Oleh-olehe payung mutha
Mak jenthit lololobah
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip Goleko dhuwit

Setiap manusia pasti akan menemui kematian. Tak peduli usia, jabatan, kewarganegaraan, jenjeng pendidikan, jika waktunya tiba,
maka mati adalah niscaya. Karenanya, setiap kita haruslah mempersiapkan tabungan amal sebagai bekal sewaktu-waktu kapan pun ajal kita tiba. Kesadaran akan datangnya kematian harus selalu ada dalam hati kita. Salah satu nasihat untuk mengingat kematian itu akrab di telinga kita dalam lagu Sluku-sluku Bathok. Mari kita resapi makna lagu tersebut dari syair aslinya.

Usluk fasluk bathnaka, bathnaka ilallah

Berjalanlah dan  jalankan batinmu, batinmu menuju Allah. Hati adalah bagian terpenting dari tubuh manusia. Rasulullah saw dalam hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim menyebut bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh. Sebaliknya jika segumpal daging itu rusak, maka akan rusak juga seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati. Oleh karenanya, hati –yang dalam hal ini dekat dengan batin- harus diupayakan selalu bersih untuk dapat selalu dekat kepada Allah. Dalam versi lain disebut ghuslu-ghuslu bathnaka yang artinya cuci dan sucikan batinmu. Ketika hati bersih maka hatin akan dekat pada Allah. Ketika hati dekat pada Allah, maka akan tubuh akan mengejawantahkannya dalam amal-amal shalih.

Siru ma’a man shalla

Berjalanlah bersama orang yang shalat. Untuk tetap menjaga agar tetap istiqomah dalam kebaikan, maka kita harus mengupayakan diri berada pada lingkungan yang baik. Tidak heran kalau salah satu hal yang diungkapkan dalam sebuah nasihat berjudul Tombo Ati adalah wong kang sholeh kumpulono. Tanda yang paling mudah dilihat dari orang-orang shalih adalah terjaga shalatnya. Dengan kita berada di lingkungan mereka yang terjaga shalatnya, maka shalat kita pun akan ikut terjaga. Jika shalat kita terjaga, maka kita akan dekat kepada Allah dan terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat.
            Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut [29] : 45)
La ilaha illallahu hayyan wa mauta 

Tiada tuhan yang disembah selain Allah, hidup dan mati. La ilaha illallah yang menjadi bagian dari tauhid kita kepada Allah bukanlah sekedar ucapan lisan, melainkan juga adalah perpaduan dengan keyakinan dalam hati dan amal badani. Jika semua hal ini kita penuhi, maka insya Allah akan mengantarkan pada husnul khatimah saat ajal menjelang. Semoga dengan istiqomah dalam tauhidNya akan memudahkan lisan kita mengucap kalimat tauhid ini saat ajal menjemput.

Rasulullah saw bersabda :
Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah la ilaha illallah, dijamin ia masuk surga” (HR Abu Ya’la dari Abu Sa’id)

Man dzalik, muqarabah
            
Siapakah itu yang mendekat (pada Allah). Hendaknya kita selalu menjaga kedekatan kita kepada Allah. Dengan selalu berusaha dekat kepada-Nya, maka Dia akan senantiasa membimbing kita menapaki jalan lurus yang diridhainya.
            “Hanya kepada Engkaulah kami meyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al-Fatihah [1] : 5-6)
Man mata ra’a dzunubah
            
Siapa yang mati akan melihat dosa-dosanya. Setelah mati, manusia akan dihidupkan kembali di alam yang abadi. Di sanalah akan dibalas amal-amal perbuatan yang dikerjakannya selama hidup di dunia. Maka perbanyaklah amal kebaikan untuk bekal menghadapi hidup sesudah kematian.
Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Az-Zalzalah [99] : 7-8)
Mahabbatan makhrajuhu taubah
            
Kecintaan (pada Allah), muaranya menuju taubat. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Hanya nabi yang dijaga Allah dari perbuatan dosa. Sungguh pun demikian, Rasululullah saw selalu beristighfar dan bertaubat. Maka bagaimana dengan kita yang jelas-jelas banyak dosa dan salahnya?

Rasulullah saw bersabda:
Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali” (HR.Bukhari)
Katakanlah (wahai Muhammad) : ‘jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali Imron [3] : 31)

Yashrifu : Inna khalaqnal insana min dafiq
            
Mengandung makna : sesungguhnya Kami ciptakan manusia dari air yang memancar. Hakikat manusia adalah hina. Ia diciptakan dari setetes air yang hina. Hanya karena ketaqwaannya kepada Allah lah yang menjadikannya mulia.
Bukankah Kami menciptakanmu dari air (mani) yang hina” (QS. Al-Mursalat [77] : 20)
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar” (QS. At-Thariq [86] : 5-6)
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS Al-Hujurat [49] : 13)

*Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di buletin IKADI Sragen
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Fajar C. Qoharuddien - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger